Tahap 3 IMO 2015

Saya dipanggil lagi jadi asisten Tahap 3 International Mathematical Olympiad (IMO) 2015 yang diadakan sekitar bulan April 2015.

Peserta tahap 3 di antaranya adalah:

  • Herbert Ilhan Tanujaya, 12 (Banten)
  • Jonathan Mulyawan, 12 (DKI Jakarta)
  • Henry Jayakusuma, 11 (Jawa Tengah)
  • Rezky Arizaputra, 11 (DKI Jakarta)
  • Ruben Solomon Partono, 10 (DKI Jakarta)
  • Erlang Wiratama, 11 (DKI Jakarta)
  • Adi Suryanata Herwana, 12 (DKI Jakarta)
  • Jefferson, 12 (Jawa Timur)
  • Stevans Christian, 11 (Jawa Timur)
  • William, 11 (DKI Jakarta)

Tahap 3 sendiri adalah tahap terakhir sebelum ditentukannya 6 orang yang akan mewakili Indonesia di IMO 2015. Nilai mereka didasarkan pada 4 buah tes mingguan dan 2 buah tes simulasi. Di satu tes mingguan, mereka diberikan empat buah soal dari dosen pembina (masing-masing bidang aljabar, geometri, kombinatorika, dan teori bilangan satu soal) yang harus diselesaikan dalam waktu 4 jam 30 menit. Untuk tes simulasi, mereka diberikan tiga buah soal dari IMO Shortlist 2014 yang harus diselesaikan dalam waktu 4 jam 30 menit. Setiap soal bernilai bilangan bulat dari 0 hingga 7.
Untuk menentukan wakil Indonesia, tes simulasi memiliki bobot yang 3.5 kali lebih besar. Perhitungannya belum selesai sampai di situ. Peserta yang sebelumnya pernah ikut IMO nilainya akan dipotong sebesar 15% sementara yang pernah ikut Tahap 3 IMO nilainya akan dipotong sebesar 10%. Kemudian, diambil 6 orang dengan peringkat tertinggi. Jika ada kasus-kasus tertentu, maka perlu dirapatkan oleh para pembina.

Alhasil 6 orang yang terpilih tersebut adalah:

  • IDN 1: Jonathan Mulyawan, 12
  • IDN 2: Erlang Wiratama Surya, 11
  • IDN 3: Henry Jayakusuma, 11
  • IDN 4: Adi Suryanata Herwana, 12
  • IDN 5: Herbert Ilhan Tanujaya, 12
  • IDN 6: Rezky Arizaputra, 11.

Nilainya tidak dibuka untuk umum tapi secara umum persaingannya sangat ketat.


Hotel

Dulu, akomodasi untuk pelatnas yang diadakan di Bandung biasanya adalah di Wisma Kartini. Satu kamar bisa muat 6 orang, ha ha ha. Sempat juga satu kali di Rumah Tamu Institut Teknologi Bandung (ITB).  Kali ini, tahap 3 diadakan di Hotel Lotus, Bandung. Lokasinya? Sangat susah untuk dijelaskan. Pokoknya, sekitar jalan Tubagus Ismail, terus masuk gang-gang kecil, terus melewati tanjakan dan turunan yang ekstrim, sekitar 5 menit belok kiri kanan, baru deh nyampe di hotelnya.

Tapi, salah satu keuntungan dari akomodasi yang terpencil dari jalan raya ini adalah… kalau mau keluar, langsung sepakat sewa angkot! Jadi, ga ada dissenting opinion terkait transportasi. Harga sewa bisa  diatur sampai 50.000 bolak-balik ke dan dari tempat yang dikunjungi.

Oh ya, menurut saya makanan di restoran hotel ini enak dan “berani” mencoba. Meskipun terkadang rasanya masakannya kurang tepat (mungkin cuman salah bahan), tapi secara umum rasanya oke. Selain itu, di akhir pelatnas, restorannya membuat pesta barbeque yang terasa tak berhingga.


Aktivitas 0: Board Game!

Kalau lagi tidak ada sesi, pekerjaan kami adalah bermain BANG! Ada yang bermain sangat serius pakai strategi, ada yang membunuh karena alasan personal, dll. Tapi, yang seingat saya paling keren adalah Stevans kalau sedang jadi Sheriff. Selalu menang dengan elegan.

Selain main BANG!, juga ada main kartu yang seharusnya sudah menjadi rutinitas anak pelatnas sejak zaman dulu, namun sempat menghilang. Karena apa ya? Entahlah…. Saya belajar permainan poker. Poker Indian paling konyol sih.

Selain itu, Ligar dan Fauzan meminjamkan rajanya board game, yaitu Catan atau The Settlers of Catan. Ini permainannya lucu! Kesannya memang kayak mikir-mikir begitu, tapi karena pada tidak terlalu memikirkan strategi, permainannya lebih berat ke persuasi. Berdagang. Begitulah kira-kira. Hidup Catan!

Oh ya selain board game, juga bermain Connect yang nama aslinya Contact yang dulu saya ketahui saat sedang pertukaran pelajar ke NUS. Saya sampai jenuh bermain permainan ini. Seru, tapi jenuh. Soalnya… setiap kali tidak ada sesi dan tidak ada akses ke board game, mainnya Connect. Terus kata dan trik yang dipakai sama terus. Ha ha ha. Kangen masa-masa pertama kali main game keren ini.


Aktivitas 1:  Badminton

Akhirnya, wacana bermain badminton berhasil direalisasikan! Saya dan asisten yang lain, Reza Wahyu Kumara, keliling mencari GOR yang ada lapangan badmintonnya. Kita coba dua tempat yaitu GOR PDAM dan satu lagi GOR yang saya lupa namanya dan arahnya. Ketika pertama kali ke GOR PDAM, petugasnya tidak bisa memastikan kami akan mendapatkan lapangan karena tergantung para staf PDAM-nya juga. Alhasil, kami bisa mendapatkan dua lapangan dan bisa bermain dua jam, dari pukul 16.45 sampai 18.45. Beberapa terlambat masuk kelas karena terjebak macet di kota Bandung yang penuh oleh orang-orang yang baru pulang kerja.

Kebetulan, ada Ojan, mahasiswa Matematika ITB, yang rutin main badminton. Tapi, saya hanya sempat main satu set sama Ojan dan saya kalah. Kalau nanti ke Bandung lagi, saya mau main lagi.

Setelah dipikir-pikir, kondisi mahasiswa yang tinggal di kos di sekitar Universitas Indonesia beruntung sekali. Selain keberadaan rumah kos yang sangat padat dengan berbagai macam kebutuhan, juga tersedia berbagai warung makan dan restoran, tempat semacam GOR untuk badminton dan futsal, dan juga mall.


Aktivitas 2: Parade Konferensi Asia Afrika

Kami pergi naik angkot, seperti biasa. Selain ada stand makan-makanan yang sebenarnya lumayan menarik, ada stand dari negara-negara yang ikut berpartisipasi dalam Konferensi Asia Afrika (KAA) 60 tahun yang lalu.

Stand negara Nigeria super geje. Ada orang berkulit hitam, kompor gas kecil, dan panci. Mereka masak nugget! Sambil nari-nari pakai musik hip-hop! Oke, tidak bermaksud menghina kalau memang budayanya demikian. Saya jujur mengharapkan sesuatu yang lebih festive untuk ditampilkan. Ini stand-nya benar-benar kayak lagi di dapur, apalagi panasnya minyak goreng sampai ke udara. Oh ya, sebenarnya saya ingin bertanya dan berkenalan dan bicara-bicara santai… macam “Orang Nigeria makan Indomie berapa kali sehari?” atau “Ada merek mi kompetitor Indomie ga di sana?”. Tapi sepertinya orangnya sudah cukup lama tinggal di Indonesia. Skenario saya jadi terdengar tidak menarik.

Stand negara Australia juga geje, tapi jauh lebih mendingan dari Mereka memperkenalkan semacam selai yang namanya Vegemite.

Sumber: Wikipedia

Sumber: Wikipedia

Saya belum pernah nih merasakannya. Kata salah satu dari anak pelatnas sih dia tidak mau mencoba karena rasanya aneh dulu. Saya jadi tertantang. Oke, jadi warnanya cokelat. Looks like Nutella! Siapa yang tidak suka Nutella? Ha ha ha. Terus katanya terbuat dari sayur yang difermentasi. Oke, saya jadi was-was. Setelah mencoba makan rotinya, ternyata rasanya… macam keju pahit yang pedas, tapi rasanya ga sevulgar animal product tapi lebih halus kayak sayur. Satu cukup.

Selain itu, ada stand negara Jepang, Korea, Kamboja, India, Pakistan, Yunani (kok bisa ada Yunani, ya?), dll. Banyak yang foto-foto dengan kostum tradisional negaranya, namun saat itu saya sedang tidak dalam mood untuk berfoto. Saya tertarik dengan baca-bacaan yang ada di stand mereka.

Di ujung jalan parade, ada panggung dan penampilan musik perkusi dari Jepang. Saya menonton sebentar setelah itu balik kembali mencari rombongan.


Aktivitas 3: Kunjungan ke ITB

Setelah selesai mendatangi parade ini, matahari sudah terbenam. Asisten Ligar dan Fauzan beserta Ekky harus shalat. Akhirnya, untuk pertama kalinya… dalam hidup saya… saya masuk ke area kampus ITB.

Hanya sempat berfoto di beberapa tempat, mencoba mengagumi kolam-kolam yang ada di ITB (lol), terus mengeksplorasi gedung tempat Departemen Matematika berada. Setelah itu, kami menuju hotel kembali dan masuk ke dalam padatnya jalan raya malam minggu kota Bandung.


Aktivitas 4: Nonton Avengers… 2 + Timezone + Makan depan UNPAD

Saya hampir lupa Avengers berapa… tapi ya film yang keluar di sekitar bulan Maret 2015. Ini keluarnyya agak mendadak sih. Oke, semuanya mendadak sih ha ha. Sepertinya semuanya suka dengan film Avengers 2 ini. Saya juga! Meskipun tidak suka film aksi, Avengers 2 sangat menarik dengan munculnya unsur karakter masing-masing superhero-nya. Setelah selesai menonton, karena tidak ada ide, semuanya berpencar dan akhirnya berkumpul di Timezone untuk pulang. Namun, ternyata kami tidak pulang! Ha ha ha. Benar-benar ide yang random makan di depan UNPAD. Oh ya, sebenarnya kalau tidak salah ingin makan di Nasi Goreng Mafia, namun ternyata penuh. Tidak mungkin kami membiarkan bapak angkotnya menunggu sampai kami selesai menunggu (menunggu-ception!) dan makan. Jadilah makan sate di depan UNPAD. Saya tidak tahu ini tempatnya populer atau tidak tapi ya… bolehlah. Saya waktu itu langsung jatuh sakit karena bergadang (untuk memeriksa soal tes) dan terlalu capek jalan-jalan.


Aktivitas 5: Floating Market

Ada beberapa hal yang saya ingat dari kegiatan ini… selain makan makanan yang super mahal, kita juga naik sampan! Ini kayaknya pertama kali saya mendayung sampan (mungkin saya sudah lupa karena saya orangnya terlalu banyak kegiatan). Awalnya, Jeff, Ruben, dan Ekky mau satu sampan, namun kata mas-masnya hasil jumlah dari berat mereka bertiga melebihi dari batas aman agar sampan tidak terbalik. Lupa bagaimana ceritanya, tapi kayaknya Jeff memilih untuk mengalah terus saya yang gantikan. Ini aneh sih… tapi sampannya katanya fine saja. Jadilah kami bertiga mendayung sampan. Tidak ada petunjuk keamanan yang dijelaskan oleh petugasnya… kalau kami mati bagaimana? Oke, lebay ha ha ha. Mungkin waduknya super dangkal sampai tidak bisa menenggelamkan orang dewasa. Tapi… ah sudahlah.

Oke, setelah mencoba mutar-mutar dengan arah yang tak jelas di bawah panas teriknya matahari sore, setelah memohon-mohon dengan anak kecil dengan perahu bebek untuk tidak main-main dengan menabrak kami (serius, sampannya gampang terbalik!)… rivalnya sesungguhnya datang. Hal apa yang lebih mengerikan melihat ada sebuah sampan mendekat dengan ada Rudi (Rudi Adha Prihandoko, sekarang pembina) di dalamnya? Pikiran saya sudah melayang ke mana-mana: Rudi bisa sejahil apa? Di sampan Rudi ada 4 orang: Rudi, Ligar (asisten stand by), Mulpin, dan Jeff. Oh, saya bisa bilang setiap orang di sampan ini jahilnya bisa parah. Akhirnya kami balapan! Tentu saja sampan saya, Ruben, dan Ekky kalan. Selain karena jumah tenaga yang kurang, jumlah kami juga ganjil.

Setelah capek dan bosan mendayung (tidak ada yang menarik untuk dilihat di sekitar waduk ha ha ha), Rudi dks (dan kawan sesampan) belum bisa menepi juga. Penyebabnya adalah… Jeff selalu membelokkan perahu mereka. Jeff duduk di belakang, jadi yang lain tidak tahu kenapa sulit sekali menepi. Ha ha ha.

Setelah selesai, kami main BANG! lagi.

Saat mau pulang, semuanya berkumpul di dalam bus. Kecuali… tiga orang yang hilang. Mulpin, Jeff, dan Ruben menghilang. Saya dan Rudi berkeliling untuk mencari ketiganya. Saya berputar berlawanan arah jarum jam dan Rudi searah jarum jam. Saya menemukan mereka setelah… mereka selesai bermain kelinci! Tega, ya! Ha ha ha. Akhirnya kita jalan balik ke arah bus. Terus saya ingat bahwa janji untuk bertemu Rudi di tengah-tengah Floating Market. Akhirnya balik lagi ke dalam. Setelah bertemu Rudi, baru kembali ke dalam bus. Pak Barra sudah mencoba bersabar ha ha ha. Ternyata, tas Mulpin tidak terlihat. Oh ternyata sudah ada yang simpan. Terus… kartu bridge UKMT-nya Ilhan juga hilang. Ilhan sempat minta kembali, namun Pak Barra dengan tegas bilang “Kita kembali.” Saya agak takut melihat ekspresi Pak Barra yang datar waktu itu. Ha ha ha. Anyway, kartunya ditemukan, kok. Tapi saya lupa bagaimana caranya. Terlalu banyak yang terjadi.


Aktivitas 6: Rumah Pak Barra

Saya tidak ikut karena harus menyelesaikan tugas di kampus. Kejamnya Pak Barra nge-Whatsapp saya kalau mereka lagi berkunjung ha ha ha. Lain kali!


Aktivitas 7: Kegiatan dengan Pak Ainun Najib

Pak Barra sempat berkata bahwa di akhir pelatnas akan ada alumni IMO yang datang. Katanya dua orang… saya wondering. Sampai akhirnya orangnya datang, naik tangga, ribut bawa anak-anak, saya langsung tahu itu suara anaknya Pak Ainun Najib. Ha ha ha. Pak Ainun Najib ini dulu jadi landlord saya ketika sedang magang di Singapura; rumahnya di Bukit Batok. Pak Ainun Najib ini juga alumni IMO tahun 2003 di Glasgow, UK. Pak Ainun ini juga adalah salah satu orang di balik situs fenomenal KawalPemilu.org.

Ya, Pak Ainun datang berkunjung ke pelatnas IMO. Selain untuk nostalgia belasan tahun yang lalu saat masih menjadi peserta, beliau juga memberikan sebuah presentasi yang juga ia berikan di suatu konferensi pemuda di Bogor. Presentasinya sangat menginspirasi, menurut saya. Intinya, selalu bertanya pada diri sendiri “How Can I Help?” Banyak pertanyaan-pertanyaan yang disampaikan, terutama dari Ilhan yang sepertinya  memerlukan justifikasi identitas diri untuk mengambil jurusan Computer Science di NUS. Akhirnya, Pak Ainun bercerita tentang salah satu career path yang cocok untuk anak CS dan Matematika, yaitu Data Scientist.


Di akhir pelatnas, diadakan Simulasi IMO yang menggunakan 6 soal dari IMO Shortlist 2014. Saya datang ke hotel lagi pada hari kedua simulasi. Hasil simulasinya seru karena berbeda sekali dengan hasil tes mingguan, kecuali untuk beberapa orang di peringkat teratas.

Setelah diumumkan hasil pelatnas ini, sesi foto-foto! Juga sedikit berbincang-bincang dengan orang tua anak-anak pelatnas. Tanpa disadari waktu itu juga terakhir bertemu dengan almarhum papanya Ilhan. Selain itu, kami juga saling kasih pesan-pesan perpisahan untuk pelatnas ini. Well, pelatnas tahap 3 kali ini menurut saya adalah yang paling tidak menegangkan dibandingkan pelatnas tahap 3 dalam 6 tahun terakhir sejak 2010.

Semoga semuanya sukses dalam perjalanan hidup masing-masing!

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s