Seleksi TOMI 2015 Tahap 2 di Yogyakarta

Kembali

Saya kembali menjadi asisten di pelatihan nasional untuk seleksi Tim Olimpiade Matematika Indonesia (TOMI) tahun 2015. Sebelum-sebelumnya, saya juga menjadi asisten tapi hanya pada tahap terakhir sebelum keberangkatan. Kali ini, saya mulai menjadi asisten sejak pelatihan nasional Tahap 2, di mana tersisa 20 orang siswa-siswi (oke, kali ini siswa semua) SMP dan SMA terbaik se-Indonesia. Sebagian dari mereka sudah menjalani proses seleksi di tingkat sekolah, kota, propinsi, hingga mendapatkan medali di Olimpiade Sains Nasional (OSN). Selain itu, mereka juga sudah berhasil menjalani pelatihan nasional Tahap 1 yang sebelumnya diadakan di kota Malang, Jawa Timur.
Ada banyak yang berubah di pelatihan nasional sekarang dibandingkan dengan pelatihan nasional zaman saya dulu:

  1. Kekurangan sumber daya manusia di bagian dosen pembina
    Beberapa dosen-dosen pembina tahun ini berangkat ke luar negeri untuk melanjutkan studinya ke jenjang yang lebih tinggi, yaitu S3. Dosen-dosen ini adalah Pak Fajar Yuliawan yang biasanya mengajar aljabar, Pak Nanang Susyanto yang biasanya mengajar teori bilangan, Bu Utari Wijayanti yang biasanya mengajar geometri. Selain itu, beberapa dosen dari Universitas Indonesia juga tidak terlibat lagi dalam pembinaan kali ini. Dosen-dosen ini adalah Pak Yudi Satria yang biasanya mengajar kombinatorika, Pak Alhaji Akbar Bachtiar yang biasanya juga mengajar kombinatorika, dan terakhir Bu Rahmi Rusin yang biasanya mengajar aljabar.
    Akhirnya, hanya ada beberapa dosen yang berada di dalam pembinaan kali ini, di antaranya Pak Aleams Barra, Pak Hery Susanto, Pak Budi Surodjo, Pak Soewono, dan Pak Purwanto. Turut membina Rudi Adha Prihandoko dan Made Tantrawan.
  2. Semakin banyaknya peraturan terkait kuota
    Beberapa tahun yang lalu ketika saya masih menjadi peserta, belum ada peraturan penguotaan. Kalau tidak salah, setiap sekolah, kota, maupun propinsi bisa memasukkan sebanyak-banyaknya peserta ke OSN dan pembinaan. Sekarang sepertinya berubah, namun saya tidak menemukan sumber tertulis aturan-aturan ini. Mungkin nanti kalau saya temukan, akan saya bagikan.
  3. Bertambahnya peraturan pelatihan nasional
    Ketika saya menjadi peserta, pelatihan dimulai pada pukul delapan pagi. Sekarang dimulai pukul tujuh pagi. Kalau tidak salah juga tahun sebelumnya ada peraturan harus sudah mandi.
  4. Siswa-siswi yang semakin oke
    Dalam hal kesiapan pengetahuan, sepertinya siswa-siswi yang sekarang secara umum (atau setidaknya, yang terlihat menonjol) di pelatihan nasional memiliki pengetahuan yang lumayan banyak terkait teknik-teknik pemecahan masalah yang sedang hip. Hal ini tentunya disebabkan semakin mudahnya akses ke materi-materi olimpiade yang sepertinya dari tahun ke tahun berdasarkan ide yang mirip sehingga siswa-siswi kita sudah lebih terbiasa dengan soal-soal ini.
  5. Pembinaannya diadakan di hotel
    Dulu saya pembinaannya di tempat pelatihan guru begitu. Beberapa tahun terakhir sepertinya pelatihan nasional selalu diadakan di hotel. Hotel yang digunakan juga tidak berbeda jauh sih kualitasnya.

Perbedaan-perbedaan ini semoga membawa pelatnas TOMI semakin baik. 🙂

Yogyakarta Dulu

Yogyakarta adalah kota tempat pelatihan nasional saya yang pertama, yaitu tahun 2008. Pertama kalinya ketemu dengan makhluk “IMO” yang waktu itu adalah Joseph Andreas, Andreas Dwi Maryanto Gunawan, Aldrian Obaja, dan Sa’aadah Sajjana Carita. Lebih jauh, ketemu teman-teman yang sangat keren yang masih bertemu hingga sekarang seperti Danang Setia Budi, Mercia Wijaya, Feri Priatna, Ronald Widjojo, Ivan Wangsatjiptalingga, Tobi Moektijono, Hendika, Kevin, dll. Beberapa teman pelatnas dulu sayangnya hilang tanpa kabar dan sudah tidak pernah berkomunikasi lagi hingga sekarang. Di zaman seperti sekarang, sih, seharusnya kehilangan kontak lebih sulit dibandingkan zaman dulu di mana email juga benar-benar dipakai seperti surat-menyurat lewat kantor pos doang. 

Foto ekskursi pelatnas ke suatu waduk di Yogyakarta tahun 2009. Credit: Pramudya Ananto.

Foto ekskursi pelatnas ke suatu waduk di Yogyakarta. Credit: Pramudya Ananto.

 

Yogyakarta Sekarang

Tapi, itu dulu. Pelatihannya diadakan di P4TK Bahasa di Kaliurang. Untuk tahun ini, pelatnas diadakan di University Hotel, Yogyakarta yang dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Bandara Adi Sutjipto. Saya ditugaskan untuk mengisi seluruh sesi mandiri, yaitu pada malam hari, di minggu pertama pelatnas.

Suatu hal yang harusnya disyukuri bertemu teman-teman baru di pelatnas ini yang sama-sama senang dengan pemecahan masalah matematika. Dari 20 anak yang hadir, saya hanya kenal 2 orang dari mereka yang tahun lalu sudah mengikuti IMO 2014 di Afrika Selatan, yaitu Jonathan Mulyawan Woenardi dari SMAK 1 BPK Penabur Jakarta dan Herbert Ilhan Tanujaya dari SMA Santa Laurensia Banten.

Semua anak pelatnas Tahap 2 IMO 2015 adalah sebagai berikut:

  • Jonathan Mulyawan Woenardi a.k.a. Mulpin. Mulpin ini, katanya, adalah singkatan dari Mulyawan Pintar yang diperoleh saat dia ikut lomba matematika sejak SMP. Tahun sebelumnya ikut IMO 2014 dan memperoleh medali perak untuk Indonesia.
  • Herbert Ilhan Tanujaya a.k.a. Ilhan. Tahun sebelumnya juga ikut IMO 2014 dan memperoleh medali perunggu.
  • Faras. Bersekolah di sekolah PASIAD. Yang paling muda.
  • Afifurahman a.k.a. Afif. Bersekolah di sekolah PASIAD juga. Biasanya duduk sama Faras.
  • Zakiy. Berasal dari SMA Insan Cendekia di Gorontalo. Saya tidak sempat bertanya pengalamannya sebagai peserta dari daerah yang bisa dibilang cukup langka peserta pelatnasnya.
  • Anan. SMA Labschool Jakarta.
  • Pratamamia Agung. Kalau tidak salah berasal dari sekolah PASIAD juga.
  • Adi, yang berasal dari SMAK Penabur Gading Serpong Brilliant Class.
  • Ruben Solomon Partono a.k.a. Ruben. Sekolah di SMAK 5 Penabur Kelapa Gading. Duduknya di samping Louis. Emas pertama di OSN tahun 2014.
  • Henry Jayakusuma. Sekolah di SMA Loyola Semarang. Akhirnya ada yang medhok-nya pol lagi di pelatnas setelah Ronald Widjojo tak ada.
  • William. Sekolah di SMAK Penabur Gading Serpong. Sepintas gaya bicaranya seperti orang Medan. Tapi mungkin dugaan saya saja.
  • Erlang Wiratama Surya a.k.a. Erlang. Sekolah di sekolahnya Tobi Moektijono dulu, yaitu SMAK IPEKA Inter. Anaknya katanya berwajah datar tapi kok menurut saya biasa saja, ya.
  • Jefferson Caesario a.k.a. Jeff. Sekolah di SMA Kr. Petra Surabaya.
  • Stevans Christian a.k.a. Stevans. Satu sekolah dengan Jeff dan katanya dari SMA mereka persaingan ke OSN-nya cukup ketat karena aturan kuota tersebut.
  • Valentino a.k.a. Valen. Sekolah di SMAK 3 Penabur Jakarta. Peserta yang bidang favoritnya adalah aljabar, sama seperti saya. Hahaha.
  • Ricky The Ising a.k.a. Rick. Sekolah di SMAK Rajawali di Makassar. Sekolahnya unik juga; selama ini sering terdengar di OSN namun sepertinya baru-baru ini muncul di pelatnas.
  • Ekky Arizaputra a.k.a. Ekky. Sekolah di SMA Al Izhar Jakarta. Ekky ini seperti reinkarnasi saya di pelatnas kecuali dalam hal skill yang mana saya tidak ada apa-apanya. :’)
  • Louis Cahyadi a.k.a. Louis. Sekolah di SMA Santa Maria Cirebon. Duduknya di samping Ruben.
  • Timothy Jacob a.k.a. Terry. Sekolahnya di SMAK Santa Laurensia, sama seperti Ilhan. Tapi kok interaksi antara keduanya agak jarang, ya? Haha.

Nah, loh kurang 1. Sepertinya memang karena tidak hadir karena sudah kelas XII. Semoga ia sukses, ya, dengan pilihannya, ya. Saya kehilangan satu orang kenalan baru, deh.

Asistensi Tahap 2

Sebagai asisten yang mengisi sesi setiap malam selama satu minggu penuh di minggu pertama, melihat kondisi bahwa Asia Pacific Mathematics Olympiad (APMO) 2015 akan diadakan pada hari Selasa di minggu kedua, saya merasa sesi mandiri yang tepat adalah yang memiliki style APMO, yang sifatnya berupa 5 buah soal esai dan benar-benar acak tidak karuan tipe soalnya. Mungkin saja hal ini salah dan tentunya dapat kita pikirkan lebih jauh sebaiknya seperti apa. Menurut saya, dalam waktu yang sangat dekat dengan kontes seperti itu, strategi menyuapi mereka dengan metode-metode pemecahan masalah yang baru justru agak mengganggu ketenangan batin pesertanya. (halah) 😛

Saya sendiri agak bingung dengan deskripsi tugas seorang asisten di pelatnas IMO. Terkadang beberapa asisten memberikan soal-soal yang terlalu sulit, terlalu mudah, atau tidak memberikan soal sama sekali. Mungkin ke depannya, sih, tugas asisten bisa lebih maksimal di pelatnas IMO. Saya belum punya ide yang cukup jelas tentang hal ini tetapi sepertinya perlu dibuat lebih jelas. 🙂

Aktivitas & Jalan-jalan

Pas saya pertama kali tiba di hotel tempat pelatnas, hampir setiap sore tidak ada aktivitas. Menurut saya, agak tidak “sehat” jika setelah mereka mengikuti kelas matematika dari jam tujuh pagi hingga jam empat sore dan disambung lagi jam tujuh malam hingga jam sepuluh malam, kemudian tidak melakukan kegiatan yang bisa relaxing selama jam 4 hingga jam 7 malam itu. Istilah kerennya adalah… work-life-balance, ceilah, macam benar aja hidup gue. 😛

Pihak hotelnya sebenarnya baik-baik dan menyediakan cukup banyak fasilitas olahraga namun tidak ada yang mengeksekusi sampai akhirnya bicara agak panjang dengan resepsionis hotel yang cukup keras waktu itu, setelah bilang “Mbak-mbak resepsionis sebelumnya udah janji, kok!” akhirnya secara ajaib adalah semua alat-alat olahraga itu sekaligus. Saya juga bingung kenapa tidak dari kemarin hari semuanya dibagikan. Meja ping-pong yang sebelumnya rusak pun akhirnya tiba-tiba bisa dipakai. Ada juga bola basket, futsal, gawang mini-soccer, voli, dll. Tapi itu dapatnya beberapa hari sebelum akhirnya saya meninggalkan pelatnas Tahap 2, jadi saya tidak tahu apakah mereka akhirnya rutin main tiap sore di pelatnas. 🙂

Selain itu, dua hari sebelum saya kembali ke Depok, saya bertemu dengan teman pelatnas saya yang sudah lama sekali tidak bertemu, yaitu Danang Setia Budi. Kami jalan-jalan ke Keraton Yogyakarta yang sayangnya ketika itu tutup karena ada tamu kerajaan yang berkunjung. Akhirnya, kami pergi ke pemandian dayang-dayang keraton zaman dulu dan berfoto-foto narsis di sana. Setelah itu, makan-makan pastinya. 🙂

Satu hari sebelum saya kembali ke Depok, saya menarik anak-anak pelatnas dan asisten untuk jalan-jalan ke Candi Prambanan yang lama tempuhnya hanya 15 menit dari hotel menggunakan TransJogja. Sayang, kan, kalau tidak mengunjungi situs ini padahal jaraknya sedekat itu. 🙂 Awalnya sudah merasa putus asa karena langit sudah mendung dan anginnya kencang sehingga jalan-jalannya bakal fail. Namun, entah ada mukjizat apa, hujannya tidak turun-turun sampai akhirnya kami pulang kembali ke hotel. 🙂 Oh, ya, dari daerah bandara, Anda bisa ke Candi Prambanan hanya dengan naik bus TransJogja A1 satu kali dengan harga sekitar 5000-an. Tiket masuknya 30.000-an tapi bisa lebih murah untuk pelajar.

Jadi, sedikit cerita tentang Candi Prambanan, deh. Ini pertama kalinya saya mengunjungi Candi Prambanan. Tahun 2008, saya sempat satu kali mengunjungi Candi Borobudur waktu pelatnas Tahap 1. Ada beberapa hal yang saya pelajari beberapa saat sebelum mengunjungi candi ini.

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Indonesia dan merupakan candi yang didirikan untuk Dewa Siwa sehingga nama lainnya adalah Candi Roro Jongrang yang namanya merupakan karakter dari dongeng terkenal yang sering kita dengar ketika kecil. Prambanan sendiri kalau tidak salah hanya merupakan nama daerah di mana candi ini berada. Ada banyak candi di Indonesia di mana nama candinya tidak diketahui; dan banyak lagi sejarah dibaliknya yang tidak diketahui. Selain candi untuk Siwa, ada juga candi untuk Dewa Brahma dan Dewa Wisnu. Ada banyak candi-candi kecil lainnya di sekelilingnya.

Ketika kami jalan-jalan, untungnya ada asisten yang menemani yang berasal dari Bali dan beragama Hindu; namanya Benni, mahasiswa tahun terakhir jurusan Matematika Universitas Gadjah Mada (UGM). Ia cukup banyak cerita tentang candi-candi selama perjalanan, misalnya bagaimana cara membuat batu yang memiliki lubang untuk air, dll. Oh, ya, seharusnya setiap akhir pekan malam-malam (kalau tidak salah, saat malam Minggu) ada pentas di belakang Candi Prambanan. Sayangnya kami tidak mengunjungi ketika akhir pekan. Jadi, setelah matahari terbenam, kami kembali ke hotel untuk sesi mandiri. A very tight schedule! 🙂

[foto-foto menyusul]

Kembali ke Depok

Setelah itu, keesokan harinya saya kembali ke Depok untuk melanjutkan tugas saya sebagai Full Time Teaching Assistant di Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia. Tidak bawa oleh-oleh karena tidak sempat. Maaf, teman-teman. 😦

Kontribusi saya selama Tahap 2 berlangsung berikutnya adalah mengusahakan keramaian di grup Whatsapp Tahap 2 yang sepinya minta ampun. Selain itu, tentunya memberi semangat kepada peserta-peserta menjelang tes. 🙂

Saya tidak mengetahui siapa saja yang lulus hingga akhirnya saya diundang kembali menjadi asisten pelatnas di Tahap 3 yang diadakan di kota kembang, Bandung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s